Kamis, 07 Juli 2011

SEJARAH MARCHING BAND

Menengok kembali ke jaman kuno, marching band berawal dari seremonial militer dan keagamaan, yang dikemas dalam suatu pertunjukan yang indah atau hiburan. Dalam banyak kebudayaan, musik perang atau musik militer yang menginspirasikan para pria dalam berperang, sebagi tanda untuk maju dan mundur, sebagai pendukung jiwa para prajurit dan merayakan keberaniannya
Marching band merupakan gabungan dari alat brass, perkusi dan alat tiup kayu yang harus dibawa saat mereka berjalan. Instrumen marching band termasuk flute dan piccolo, French horns, saxophones, clarinet, trumpet, trombone, tuba, drum, cymbal dan triangle. Beberapa band memasukkan glockenspiel, xylophone ke dalam seksi perkusinya. Ada pula marching bagpipe bands.
Terdapat benda seni Mesopotamia kuno yang diperkirakan berumur 4.000 SM, yang menyerupai kettle drum. Alat perkusi seperti cymbal telah digunakan oleh masyarakat Mesir kuno, Syria, Yunani, Romawi dan Yahudi. Timpani atau tambourine adalah salah satu contoh dari alat perkusi yang tidak banyak berubah sepanjang masa.
Alat tradisional terbuat dari kulit binatang atau kulit kerang adalah sama dengan yang kita gunakan saat ini. Seperti yang digunakan oleh Canadian Ojibwa dan Cree First Nation, sama dengan masyarakat Timur tengah kuno dimana hal ini berasal. Para budak Afrika memperkenalkan Xylophone ke dalam komunitas Latin pada waktu penaklukan Spanyol pada abad 16 dan 17. Drum dan castanet mengiringi taria-tarian Roma kuno. Triangle aslinya berasal dari musik Turki yang mengkombinasikan triangles dengan cymbal dan drum dengan ukuran yang berbeda.
ALAT TIUP BRASS
Alat tiup brass berasal dari beberapa nenek moyang yang luar biasa. Etruscan cornu atau sangkakala perang, berukuran 126 x 55 inch, yang ukurannya terlalu besar untuk dipakai di marching band saat ini. Tetap saja alat ini menjadi alat yang penting di lingkungan militer dari waktu ke waktu juga dimainkan pertarungan gladiator.Etruscan juga menggunakan lituus yang terlihat dan terdengar seperti tuba pada saat ini.
Sangkakala berumur 2000 SM. Pertama kali digunakan sebagai sangkakala untuk berburu, French Horns dibuat di Prancis pertengahan abad ke 16. Dibutuhkan 12 kaki pipa gulung yang menghasilkan 12 suara, rangkaian harmoni alami. Pada tahun 1750an, para musisi mulai menggunakan tangan pada bells( ujung depan ) dan memasukkan lebih banyak lagi not. Valve baru digunakan pada abad 19an. Trombone pertama atau yang pernah disebut“sack-buts” tercatat di abad ke 14. Pada abad ke 15an terdapat 3 jenis ukuran trombones; alto, tenor dan bass. Mendekati abad ke 18 bagian depan trombone menjadi lebih mengembang.
Trumpet, pertama dibuat pada jaman kuno berasal dari kulit kerang, yang selanjutnya dibuat dari perak atau perunggu oleh masyarakat Mesir yang juga menambahkan panjang, pipa lurus dan bells yang mengembang. Dua buah trumpet ditemukan dimakam Tutankhem atau Pharaoh Mesir atau raja.
Lama kelamaan pengembangan menghasilkan perubahan dalam pembuatan alat dan perubahan suaranya. Contohnya Bluehmel piston valve, diciptakan pada tahun 1820an memungkinkan alat tiup untuk bermain not bawah. Piston valve ini memudahkan dalam penemuan trumpet kromatik, bentuk S dari trumpet yang kita kenal saat ini. Tidak seperti trumpet modern, trumpet kuno sangat sederhana dan hanya dapat bermain nada-nada natural.
Tuba modern dipatenkan pada tahun 1835 oleh Prussian bandmaster Friedrich Wilhelm Wieprecht danJohan Gottfried Moritz. Tuba marching band yang biasanya adalah baritone tuba, juga disebut euphonium atau sousaphone 3 valve. Tuba Marching bugle biasa digunakan saat ini di drum and bugle corps.

MUSIK MARCHING BAND
Sampai tahun 1600an, para musisi militer belajar musik mereka dengan meniru satu sama lain. Pada abad ke 17, Composer mulai menulis musik terutama untuk marching band. Jean Baptiste Lully, composer dan musisi Prancis adalah composer pertama yang menulis dan mengeluarkan partitur drum. Seiring dengan waktu, bada lebih banyak lagi composer yang menulis musik marching untuk band, termasuk Johann Sebastian Bach danWolfgang Amadeus Mozart. Pada usia 29 tahun, Franz Joseph Haydn menulis musik mars untuk kelompok militer
C.P.E Bach menulis beberapa sonata outdoor dan Michael Haydn menulis sebuah mars band Turki. Hector Berlioz menulis buku pertama orkestrasi. Dia juga menulis untuk brass band untuk 108 anggota band.
SERAGAM MARCHING BAND
Secara tradisional, seragam pemain band militer menggunakan renda dan pita untuk membedakan dengan seragam prajurit biasa. Sejak komandan ingin mereka mengetahui dimana posisi prajurit pemberi tandanya setiap saat, maka pemain drum menggunakan seragam yang mudah dilihat. Seperti band sekolah yang semakin popular, anggota marching band menggunakan warna-warna sekolah. Saat ini, seragam band juga memasukkan celana panjang, bretel, jaket dan sarung tangan. Helm dengan tali dagu dan beberapa aksesoris lainnya yang kadang-kadang digunakan. Sepatu kadang-kadang dilapisi lagi untuk menghindari percikan lumpur.
Sekitar tahun 1923 kontes dan festival band mulai digelar. Pada tahun 1960an marching band mulai popular dan beberapa kejuaraan mulai berkembang. Pada tahun 1970an pola drill simetris mulai popular. Twirling baton dan swing flags menjadi bagian terbanyak dalam show dan band-band Amerika selalu mengibarkan bendera U.S.A dalam setiap penampilan rutinnya. Pemain perkusi cenderung berada pada jarak garis 50 yard bersama dengan garis banner di belakang lapangan.
Pada tahun 1980an, colorguard dan perkusi mengambil bagian yang lebih besar dalam penampilan. Langkah menjadi lebih cepat dan skill colorguard l dituntut lebih banyak lagi. Musiknyapun menjadi lebih sulit mulai dari musik klasik oleh composer seperti Dvorak dan Stravinsky hingga musik popular dan lagu-lagu penampilan
Tahun 1990an terlihat seragam yang lebih menyala dan drill colorguard yang lebih berani. Marching band dituntun untuk mengerjakan lebih banyak lagi permintaan dan musiknya lebih bervariasi. Tuning marching band bisa sangat berbeda seperti Phantom of the Opera, Beatle’s song, atau musik dari Titanic dan God Bless the Child. Saat ini penampilan band hanya bisa dibatasi oleh imajinasi bandnya sendiri.
APA ITU DRUM CORPS ?
Drum corps saat ini adalah sebuah kompetisi marching band yang terdiri dari Brass, Perkusi dan Colorguard. Drum corps mempunyai sejarah yan panjang dan bervariasi. Drum Band Connecticut’s Mattatuck dimulai pada tahun 1767 dan masih mempunyai anggota hingga melewati 230 tahun. John Philip Sousa menulis sebuah instruksi manual untuk Drum and Bugle corps di tahun 1886. Hall of Fame Drum Corps dimulai pada tahun 1966.
Boston Crusader dinyatakan sebagai anggota kehormatan oleh almarhum Presiden John F.Kennedy, dan mereka adalah unit drum corps pertama yang membawa bass drum double secara horizontal. Blue Devils adalah unit drum corps pertama yang memenangkan setiap caption di final DRUM CORPS INTERNATIONAL ( DCI ). Royal Crusader mencatat rekor dunia pada 16 April 1978 untuk bermain drum secara konstan berjalan sejauh 20 mil. Pada tahun 1979 Phantom Regiment mendapat nama Baskin-Robbins ice cream setelah mempromosikan kejuaraan DCI wilayah utara di Ypsilanti. New York Lancers tampil dalam Sesame Street untuk menerangkan mengenai ritme.

Jumat, 01 Juli 2011

Materi Dasar Pengajaran Perkusi Marching Untuk Pemula


Pada tulisan ini saya akan membahas bagaimana mempersiapkan materi pengajaran untuk pemain yang sangat baru dan awam tentang perkusi Marching.
Tulisan dibawah ini :
  1. Bersifat umum tanpa detail materi karena saya percaya masing-masing instruktur lebih mengerti materi kebutuhan unitnya masing-masing.
  2. Bersifat ke rencana kerja agar efektif dalam pencapaian keahlian bermain yang diinginkan.
  3. Diperuntukan bagi para pemula yang telah dipilih maupun yang lolos audisi oleh instrukturnya untuk masuk perkusi Marching
  4. Tidak berdasarkan teori tertentu maupun ketetapan tertentu, tetapi hanya berdasarkan dari hasil kesimpulan pengalaman 10 tahun terakhir dalam mengajar berbagai macam band yang baru lahir di berbagai tempat di Indonesia.
Jadi tulisan ini bersifat berbagi pengalaman saya dalam menghadapi band yang baru lahir yang mungkin bisa membantu rekan instruktur Marching Band Indonesia dalam menghadapi para pemula di perkusi Marching.
Berikut adalah langkah-langkah pengajaran efektif untuk pemula.
A. Teori Dasar Perkusi Marching.
- Tujuan :
Diharapkan para pemula akan lebih mengerti konsep tentang perkusi Marching, instrumen dasar dan sikap bermain secara keseluruhan. Diharapkan pada akhir materi ini para pemula akan mempunyai motivasi lebih besar dalam mendalami ilmu perkusi Marching.
- Materi :
  • Sejarah singkat perkusi Marching (filosofi dasar)
  • Sikap dalam perkusi Marching (attitude bermusik)
  • Pengenalan masing-masing alat meliputi fisik (bentuk, berat, dan point keunggulannya), warna suara dan demo cara memainkan yang benar untuk masingmasing alat agar suara yang benar bisa dikenalkan.
  • Demo pit dan battery
  • Demo perkusi penuh
- Durasi : Satu kali latihan penuh. (Min. 2 Jam)
B. Teori Musik Dasar
- Tujuan :
Teori musik sangat penting kepada pemula. Dengan mengerti teori dasar musik diharapkan si pemula akan lancar sight reading dan bisa belajar mandiri tanpa harus didikte.
- Materi :
  • Dasar Not
  • Pengenalan Birama
  • Pengenalan harga not dengan contoh pohon not
  • Variasi not 1/8 dan 1/16
  • Latihan baca variasi not
  • Latihan baca variasi not dengan variasi tempo dan mark time
- Durasi pengajaran
  • Diberikan setelah langkah A telah dilewati.
  • Diberikan dalam 2 kali pertemuan masing2 45 menit tiap 3 point.
  • Dilatih terus dengan memberikan materi pemanasan tertulis dari staff pelatih.
C. Gripping (Cara Pegang)
- Tujuan :
Diharapkan pemula mengetahui cara dasar memegang stick dengan benar dan membiasakannya.
- Materi :
  • Pengetahuan umum tentang cara Match Grip dengan variannya dan Traditional Grip
  • Match Grip yang dipakai dan detail Traditional Grip
- Durasi Pengajaran
  • Diberikan setelah langkah A dan B telah dilewati.
  • Satu kali pertemuan satu latihan penuh
  • Konsisten tiap latihan materi dasar untuk menjaga cara memegang dengan benar.
D. Stroking (Cara Pukul)
- Tujuan :
Diharapkan pemula memahami cara memukul perkusi yang efektif dalam penggunaan anatomi tubuh
- Materi :
  • Pemahaman dasar otot yang digunakan dan penerapannya
  • Single Stroke satu tangan (8-8 dan 8-8-16 atau sejenisnya)
  • Single Stroke dua tangan (Timing not 1/16)
  • Pulse (Nadi)
  • Double Stroke (Variant Diddle)
  • Gabungan variasi single stroke satu dan dua tangan
  • Gabungan variasi single satu dan dua tangan dan Pulse
  • Gabungan variasi single satu dan dua tangan, Pulse dan Double Stroke
  • Dinamika dan ekspresi
- Durasi :
  • Diberikan setelah langkah A, B dan C dilewati.
  • Seluruh materi satu bulan penuh
Perkiraan total durasi pertemuan untuk keseluruhan materi dasar ini adalah dua bulan dengan asumsi latihan dilakukan dua kali dalam seminggu yang tiap latihannya memakan waktu efektif kurang lebih dua jam. Setelah materi dasar ini dilewati dengan baik maka si pemula akan bisa ditempatkan di alat mana pun baik di pit maupun battery.
Demikianlah teori dasar yang wajib dikuasai dengan baik dan benar oleh para pemain Marching yang masih baru. Jika materi dasar ini matang maka pencapaian keahlian bermain untuk tahap berikutnya akan terasa lebih mudah dan sangat efektif dalam pencapaian target teknisnya di masing-masing alat.

Kamis, 30 Juni 2011

Main Trumpet Asyik-asyik Aja

Main Trumpet Asyik-asyik Aja

trumpet
Meski suaranya apik, merdu dan mendayu, meniup trumpet sepertinya perlu ngotot, perlu ngeden, membuat kita ciut nyali, enggan untuk mencoba, khawatir turun berok. Padahal kalau kita tahu siapa dia dan paham cara meniupnya, bermain slompret ternyata mengasyikkan.
Di lapangan, seorang mayoret terlihat tengah beraksi memimpin barisan marching band. Bodinya yang sintal semampai bak peragawati berbalut kostum mini berhias rumbai-rumbai mampu menarik perhatian penonton. Terutama kaum cowok jomblo. Tongkat komandonya sesekali dilempar tinggi ke udara dan hap! …,lalu ditangkap.
Barisannya terdiri dari beberapa kelompok diantaranya peniup trumpet. Trumpet-trumpet yang dimainkan itu nampak serba mengkilat mengesankan kilau logam. Berkilau, karena sememangnya mereka terbuat dari logam, dari bahan kuningan dilapis krom, perak atau warna emas. Karena metal kuningan itulah maka alat musik tiup trumpet memperoleh julukan sebagai alat musik tiup logam alias brasswind. Julukan ini berlaku untuk seluruh brayat trumpet seperti Cornet, Corno, French Horn, Trombone, Tuba dsb.
Ukuran brasswind itu berbeda-beda, ada yang seukuran botol bir dan ada pula yang sebesar ular Anaconda, mewakili aneka wilayah nada, sopran, alto, tenor atau bas. Agar ringkas, mereka ditekuk-tekuk dan digelung-gelung. Model tekukan dan gelungan bervariasi, ada yang ditekuk mirip klip penjepit kertas memo, ada yang dibuat serupa peniti, ada juga yang dimodel spiral persis obat nyamuk bakar.
Bunyinya…, keras! Satu trumpet mampu berteriak sekuat tenaga 6 watt sehingga pantas kalau trumpet kemudian dipilih untuk mengisi formasi musik lapangan seperti marching band itu. Satu saja sudah vokal, apalagi kalau krubutan. Rame dah! Gaya memainkannya aneka macam, ada yang dipeluk, dikalungkan, atau cukup ditenteng saja.
Tidak hanya jago di lapangan, mereka ternyata juga jago main di kamar, di pagelaran musik kamar. Kita dapat menyaksikan aksinya, dapat mendengar suaranya yang kadang mendesah, kadang menyalak, disela bunyi alat musik gesek, alat petik, perkusi dan lain-lain.
Bukan itu saja, brasswind biasa pula hadir di panggung hiburan musik tanjidor, di panggung musik jazz, tampil mengiringi musik dansa hura-hura, mengiringi kirab prajurit kraton, mengiringi upacara pengibaran bendera, upacara pelepasan jenasah, mengiringi pertunjukan sirkus, memusiki film kartun semacam Tom & Jerry.
Di jalur musik jazz, nama beken seperti Louis Armstrong atau Mile Davis sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Mereka adalah para kampiun, para peniup trumpet kaliber dunia.
MENARIK DAN MENGESANKAN
Kita pasti penasaran melihat alat pengatur nada trumpet yang hanya berupa 3 buah piston. Meskipun berpiranti sederhana namun trumpet mampu menjelajah semua nada, lengkap hingga ke nada-nada kromatik. Menarik!
Dan lagi, meskipun berbeda ukuran, berbeda bentuk dan berbeda latar belakang, namun semua brasswind dibunyikan dengan cara yang sama yaitu dengan cara ditiup mouthpiecenya. Dan tanpa janjian, mouthpiece atau piranti bantu sumber bunyi masing-masing mereka memiliki desain yang nyaris serupa.
Piranti pengatur nada trumpet biasa kita sebut piston. Jumlah piston cuma 3 namun alat musik itu mampu menyuarakan banyak nada, do-di-re-ri-mi-fa-fi-sol dst. lengkap hingga mencapai lebih dari 2 ½ oktaf.
Sistim piston yang dikembangkan untuk pertama kalinya di Jerman oleh Heinrich Stolzel pada 1814 dulunya berupa tabung atau selongsong mirip spet suntikan. Di dalam tabung terdapat piston beserta kelengkapannya seperti gagang piston dan per. Adanya per membuat piston dapat ditekan dan kembali membal.
Beberapa lubang seperti liang terdapat di bodi piston. Liang-liang ini berfungsi menyalurkan udara ke jalur nada yang dituju. Perubahan posisi piston, naik atau turun akan membuka atau menutup lubang saluran dan mengubah arah aliran serta jarak tempuh udara di dalam tabung. Makin panjang jarak, nada makin merendah.
Penemuan piston ini sangat penting. Dengan piston kita tidak perlu lagi repot-repot menggonti-ganti sulur bodi, menambah atau mengurangi panjangnya guna mendapatkan suara yang pas. Cukup dengan mencet-mencet tombol piston saja dan…, semuapun beres. Piston sebagai pengatur nada ini dapat diaplikasikan ke semua jenis alat musik brasswind, baik yang berukuran kecil, sedang maupun besar. Pengembangan sistim piston dilakukan kemudian oleh Perinet dari Berlin pada 1838.
CARA NADA DIHASILKAN
Cara kerja piston cukup simple. Posisi piston tanpa ditekan disebut posisi open. Kode angka 1 merujuk pada aksi menekan piston pertama, menggunakan jari telujuk tangan kanan, disebut posisi 1. Angka 2 adalah piston ke dua, ditekan dengan jari tengah, disebut posisi 2. Angka 3 untuk piston ke tiga ditekan dengan jari manis disebut posisi 3. Nomor urut piston dihitung mulai dari piston pertama yang berada paling dekat mouthpiece, piston kedua berada ditengah dan piston ke tiga berada dekat ke corong.
Posisi open, tanpa menekan, akan menghasilkan nada-nada harmoni C /G/c/e/g/bes dan c. atau DO – SOL – do – mi – sol – li – do. (Nada oktaf dicapai dengan bantuan formasi bibir atau embouchure yang mengetat ketika meniup mouthpiece).
Posisi 2, yaitu aksi menekan piston ke 2 akan membawa nada-nada open turun ½ step, nada. C menjadi B atau Do menjadi Si. Nada G turun setengah menjadi Fis atau Sol menjadi Fi dan seterusnya.
Posisi 1, yaitu menekan piston ke 1 akan membuat nada open turun sebanyak 1 step. Nada C menjadi Bes atau Do menjadi Li. Nada G turun satu menjadi F atau Sol menjadi Fa dst.
Posisi 1 dan 2 bersamaan, yaitu dengan menekan piston ke 1 dan ke 2 secara bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 1 ½ step. Nada C menjadi A atau Do menjadi La. Nada G menjadi E atau Sol menjadi Mi dst.
Posisi 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 2 step. Nada C menjadi Gis atau Do menjadi Sel. Nada G menjadi Dis atau Es atau Sol menjadi Ri dst.
Posisi 1 dan 3 bersamaan akan menurunnkan nada open sebanyak 2 ½ step.. Nada C menjadi G atau Do menjadi Sol dan Nada G menjadi D atau Sol menjadi Re dst.
Posisi 1, 2 dan 3 bersamaan akan menurunkan nada open sebanyak 3 step. Nada C menjadi Fis atau Do menjadi Fi dan nada G menjadi Cis atau Sol menjadi Di dst.
Model lain dari piranti pengatur nada adalah berupa slide yang operasinya dengan cara ditarik serta diulur. Uluran slide akan menambah ukuran panjang tabung, dan sebaliknya ketika slide ditarik, tabung akan memendek. Penambahan panjang bodi atau tabung dalam skala tertentu akan menurunkan nada sebanyak step tertentu pula.
Nada bisa diatur sesuai kemauan, tapi tentu dengan syarat harus ada bunyi. Sumber bunyi trumpet berasal dari mouthpiece. Mouthpiece ini bisa terbuat dari kayu, tulang, gading, perunggu, perak, emas, kuningan ataupun tembaga dll. Bentuknya seperti corong kecil, nyaris seperti model stetoskop pak dokter.
Cara membunyikannya dengan dibekapkan di bibir lalu ditiup. Variasi nada, tinggi-rendahnya, didapat dengan cara mengatur formasi bibir, merapat atau membiarkan tetap ndomble. Meski dapat saja mouthpiece itu menyuarakan beberapa nada, sesuai dengan posisi atau keketatan bibir kala meniup, tapi nada-nada yang dihasilkan belum memadai, belum cukup lengkap. Makanya mouthpiece perlu dibantu oleh piranti piston ataupun slide agar dapat bernada sempurna.
Meniup mouthpiece perkaranya hampir mirip dengan cara kita bersiul. Hanya saja ketika kita meniup trumpet, jangan lupa mouthpiecenya dipasang. Nah, dibalik mouthpiece itu, silahkan bibir sebal-sebul. Awalnya memang tidak gampang. Tapi setelah biasa, meniup trumpet bakal enak saja, tak perlu ngotot ataupun ngeden, tak perlu khawatir turun berok. Kagak ngaruh!
ANEKA DESAIN BRASSWIND
desain trumpet
Ada 3 desain utama brasswind yang kita kenal yaitu: desain trumpet, desain bugle dan desain horn. Desain trumpet memiliki ciri bertabung silindris dan bergelung pipih. Bentuk bugle berciri bergelung pipih dan bertabung kerucut. Sedang desain horn berciri bergelung melingkar, bertabung kerucut dan bercorong lebar seperti bunga sedang mekar.
Bentuk trumpet masa kini, kita semua tahu. Mouthpiece berada di salah satu ujung dan corong berada di ujung lainnya. Di tengah-tengah diantara bodi silindris yang bergelung pipih, terpasang piston sebagai alat bantu pengatur nada.
Jauh berabad sebelumnya, trumpet itu hanya berupa pipa kayu panjang dengan ujung mencorong, berbentuk seperti corong. Alphorn merupakan salah satu dari model trumpet kuno itu, panjangnya mencapai lebih dari 2 meter dan banyak digunakan di daerah pegunungan Alpen. Dari catatan diketahui bahwa bahan metal telah digunakan menggantikan bahan kayu untuk membuat trumpet panjang tersebut pada abad ke 13.
Di awal abad ke 16, benda panjang metal itu terlihat telah digelung dalam 3 putaran sehingga nampak ringkas, mudah ditenteng untuk diajak ngamen. Sama sekali masih polos, tanpa piranti pengatur nada, sehingga nada yang dihasilkan sangat minim. Kita mengenalnya sebagai sangkakala atau trumpet natural yang hanya bisa berbunyi Do - Sol serta nada oktaf do – mi – sol – li – do.
Upaya untuk melengkapi nada pada sangkakala terus dilakukan. Menjelang abad ke 18 crook atau batang pipa yang dapat diselipkan ke tabung pipa utama mulai dikenal, berfungsi untuk mengganti-ganti kunci nada. Tahun 1801 Anton Widinger dari Vienna mencoba melubangi bodi trumpet dan menempatkan klep bergagang yang dapat dibuka-tutup di atas lubang guna menghasilkan variasi nada. Pembaharuan terus berlangsung hingga pada akhirnya ditemukanlah piranti pengatur nada berupa piston.
Kata Cor atau Cornu dalam bahasa latin berarti horn atau tanduk kerbau. Bugle atau buculus dalam bahasa latin artinya kerbau muda alias gudel dalam bahasa Jawa.
Sosok cornet, demikian kita biasa menyebutnya, meskipun modelnya nyaris sama dengan trumpet, namun terlihat lebih gemuk dan lebih mengerucut. Suaranya terdengar lebih dalam dan lembut. Bugle atau cornet sudah dikenal sejak jaman purba, dipakai sebagai alat komunikasi jarak jauh, Di abad pertengahan, bugle yang terbuat dari metal mulai dipakai di kemiliteran, sebagai aba-aba apel pagi siang dan malam. Pada tahun 1810 Joseph Holliday dari Irlandia menerapkan sistem piston pada bugle cornet. Orang bilang, si bogel, bukan bugil, lebih mudah dimainkan dibanding trumpet.
Satu dari alat musik kuno berbentuk seperti tanduk atau horn dan terbuat dari tembaga dikenal dengan nama Lur. Model yang lain adalah Cor de chasse dalam bahasa Perancis yang berarti hunting horn. Dalam perkembangannya alat musik itu berubah menjadi Corno atau disebut juga French horn.
French horn digelung bulat melingkar dengan corong yang ekstra lebar. Jauh sebelum ditemukan sistem crook ataupun piston, Anton Hampel telah mengenalkan tehnik bermain Corno atau French horn dengan bantuan jari-jari tangan. Sambil memangku dan meniup French Horn, tangan kanan pemain merogoh corong dan memanipulasi lubang corong itu untuk menghasilkan nada-nada tambahan. Meskipun sistim piston kemudian digunakan, namun gaya main French horn yaitu dengan merogoh corong masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Sangat unik.
TROMBONE YANG MENYODOK
Alat tiup yang satu ini bukan berpiston tapi berslide. Tarik dan ulur, seperti itulah cara mengatur nada pada trombone slide. Dengan slide ini trombone dapat menghasilkan nada-nada lengkap.
Di masa lalu tombone disebut sackbut dari bahasa Perancis saquer yang berarti tarik atau cabut dan bouter yang berarti ulur. Sistem slide memungkinkan trombone untuk dimainkan secara glissando yaitu menggelincirkan suara tanpa terputus alias bisa meraung-raung. Trombone slide ini merupakan satu-satunya alat musik tiup yang sejak dari awal terciptanya sudah mampu menghasilkan nada lengkap, mampu meniti keseluruhan nada.
Anggota keluarga alat musik tiup brasswind masih banyak lagi seperti: Flugel horn, Melophone, Tuba, Sausaphone dll. Mereka beraneka ukuran serta mewakili aneka wilayah nada, dari wilayah nada sopran, alto, tenor, baritone hingga wilayah nada bas yang paling ngebas.
Ketika satu jenis dari mereka bisa kita mainkan, kita kuasai, maka yang lain bisa pula kita tangani karena mereka memiliki kesamaan dalam cara meniup maupun cara mengatur nada. Coba saja kalau enggak percaya.